MUARA TEWEH,KALTENGKITA.COM– Sekretaris Fraksi PKB DPRD Barito Utara, H. Nurul Anwar, menyampaikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Seminar Cinta Al-Qur’an 2025 yang digelar di Gedung Balai Antang. Ia menyebut kegiatan ini sebagai respons yang tepat terhadap situasi moral dan budaya digital yang semakin kompleks.
“Di tengah kompleksnya tantangan moral dan budaya digital saat ini, Al-Qur’an harus hadir sebagai benteng spiritual yang kokoh,” ujarnya.
Nurul Anwar menegaskan bahwa Al-Qur’an harus diposisikan sebagai pedoman hidup yang aplikatif, bukan hanya dibaca tanpa makna. Menurutnya, seminar ini sangat strategis untuk mengingatkan masyarakat bahwa kitab suci tersebut memuat nilai-nilai yang relevan dengan berbagai aspek kehidupan.
“Seminar semacam ini penting untuk menegaskan kembali bahwa Al-Qur’an adalah pedoman hidup, bukan sekadar teks untuk dibaca,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi kehadiran dua narasumber berkompeten, yakni Prof. Dr. H. Mujibur Rahman, M.A., Rektor UIN Antasari Banjarmasin, dan Dr. H. Supriadi, dosen UIN Palangka Raya. Menurutnya, kehadiran para pakar tersebut dapat memberikan perspektif mendalam, memperkuat pemahaman masyarakat, dan menghadirkan solusi terhadap tantangan zaman.
Nurul Anwar turut menyambut baik pernyataan Bupati Barito Utara yang mengutip ayat Al-Qur’an pada kegiatan tersebut. Hal itu dinilainya memperkuat semangat bersama untuk kembali mendekatkan diri dengan kitab suci.
“Komitmen untuk memperkuat hubungan intelektual dan spiritual dengan Al-Qur’an adalah langkah nyata,” jelasnya.
Ia juga menyatakan dukungan penuh terhadap gerakan afirmasi mengaji 6M (Masyarakat Muara Teweh Mengaji setelah Magrib di Mushalla dan Masjid) yang digaungkan dalam seminar itu. Gerakan ini dianggap sebagai langkah konkret untuk memperkuat budaya religius di tengah masyarakat.
Politikus PKB itu menegaskan perlunya kolaborasi antar berbagai pihak dalam membentuk generasi Qurani. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, hingga keluarga disebut memiliki peran penting yang saling melengkapi.
“Sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, keagamaan, dan keluarga adalah kunci untuk membentuk generasi Qurani,” pungkasnya. (Redk-2)














