PALANGKA RAYA,KALTENGKITA.COM–Kota Palangka Raya tengah mengalami deflasi, atau penurunan harga-harga barang, berdasarkan data yang diterima Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Khemal Nasery, dari Pemerintah Kota (Pemko). Fenomena ini justru terjadi menjelang bulan Ramadan, saat biasanya harga bahan pokok mengalami kenaikan.
“Kondisi ini harus jadi perhatian serius. Menjelang Ramadan dan Idulfitri, pergerakan harga harus terus dipantau agar tidak menimbulkan dampak ekonomi yang lebih luas,” kata Khemal kepada media, Senin (12/2).
Politisi Partai Golkar itu menjelaskan bahwa deflasi di Palangka Raya dipicu oleh lemahnya daya beli masyarakat. Akibatnya, barang-barang menjadi sulit terjual di pasar, yang dikhawatirkan dapat berdampak pada sektor ekonomi lainnya, termasuk risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah bidang usaha.
“Jika barang tidak laku, produsen dan pedagang bisa rugi. Kalau berlarut, bisa berdampak pada lapangan pekerjaan,” ujarnya.
Harga Bisa Naik Mendadak Jika Stok Menipis
Meskipun saat ini harga-harga menurun, Khemal memperingatkan bahwa fluktuasi harga sangat mungkin terjadi, terutama ketika permintaan meningkat mendekati Ramadan. Pemerintah, katanya, harus tetap menjaga stabilitas stok dan distribusi barang pokok agar tidak terjadi lonjakan harga mendadak.
“Kondisi pasar bisa berubah cepat. Pemerintah harus siap menghadapi potensi kenaikan harga bila stok menipis,” tambahnya.
Pemko Diminta Dorong Daya Beli dan Jaga Stabilitas Pasar
Khemal meminta Pemko Palangka Raya untuk menyusun langkah strategis dalam menjaga keseimbangan pasar dan memulihkan daya beli masyarakat. Upaya itu bisa dilakukan melalui operasi pasar murah, bantuan sosial, atau dukungan UMKM agar perputaran ekonomi kembali menggeliat.
“Kami harap Pemko aktif mendorong daya beli masyarakat dan mengantisipasi gejolak harga menjelang Ramadan,” tutup Khemal.
(Redk-2)












